ABOUT ME

sany3815.jpgAku dilahirkan dengan nama Antony Grivod, sebuah nama yang sangat asing bagi orang jawa dan orang Indonesia (aku tdk tau arti nama tersebut). Aku lahir disebuah rumah sakit sebuah kota kecil bernama pringsewu di propinsi Lampung. Beberapa hari setelah aku lahir, Soeharto Alm mengumumkan program Transmigrasi lokal, Ayahkupun dengan antusias mengikuti program tersebut, dengan harapan bahwa keluarga dan anak-anaknya akan bahagia dan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Ayahku sangat kaget begitu mengetahui bahwa tanah barunya merupakan daerah yang sangat gersang dan berbatu dengan kondisi alam yang sangat panas, bagaimana mungkin para transmigran akan hidup ditanah yang seperti itu. Akhirnya berbekal dengan keyakinan yang sangat tinggi dan semangat seorang pejuang (demi keluarga) pohon demi pohon dapat ditanam ditanah tersebut, meskipun tidak semua tanaman dapat hidup, tetapi alam telah memberikan pembelajaran dan menerima sentuhan tangan manusia sehingga alam tersebut dapat ditundukkan.

Aku dibesarkan dilingkungan pedesaan yang seluruh penghuninya adalah pejuang desa. Setiap hari aku hanya bertemu dengan keterbatasan dan ramahnya orang desa serta teman-teman kecilku yang sekarang entah berada dimana. Aku mulai mengenal dunia pendidikan berawal dari Sekolah Dasar (SD) yang berada didesaku bersama dengan teman-temanku, aku mulai dapat membaca, berhitung dan berkomunikasi dengan orang lain. Setelah menamatkan SD, aku melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang juga berada didesaku. Sepulang sekolah ayahku mulai memberikan tanggung jawab kepadaku untuk mengembala beberapa ekor sapi bersama teman-temanku yang juga penggembala sambil kami bermain, bercanda, mandi disungai yang airnya sangat jernih, beberapa temanku mencari ikan untuk tambahan lauk makan mereka, menjelang sore kami pulang bersama ternak kami, malamnya diteruskan dengan kegiatan mengaji (kebiasaan orang desa), memperdalam agama. Maka lengkaplah kehidupanku. Sebagai seorang penggembala aku sempat protes keras kepada ayahku karena menggembala adalah hal yang sangat membosankan dan menyita waktu mainku, tetapi dengan tegas ayahku mengatakan bahwa “ini adalah sebagai pembelajaran karena bagaimana akan memimpin manusia sedangkan hewan saja tidak bisa kamu pimpin” aku menyerah dan hal ini aku lakukan beberapa tahun sampai aku lulus SMP. Ayahku yang tidak mau melihat anak-anaknya mengikuti jejaknya (seorang petani), membuangku kedaerah yang cukup jauh (230 km) dari rumahku dengan tujuan hanya satu, untuk melanjutkan belajar ke Sekolah Menengah Umum (SMU). Di kota kecil nan bersih serta indah berslogan WAWAI (Wilayah Aman Wangi Anggun Indah) bernama Kotamadya Metro aku mulai menapak hari-hariku sendirian, tanpa ada seorangpun yang aku kenal. Sebagai anak kost yang bertugas belajar, aku mulai mengikuti, mendengarkan dan memperhatikan apa yang guruku berikan didalam kelas. Membosankan dan menjenuhkan memang setiap hari hanya mendengarkan guru mengoceh tanpa boleh berbuat apa-apa. Akupun mulai bergaul dengan anak-anak kota yang juga teman-teman sekolahku, pengenalan dunia kota memberikan pengaruh positif dan negatif kepadaku, tetapi dengan prinsip kuat yang aku pegang yang telah diajarkan alam desaku, aku berhasil menyelesaikan SMU. Masa-masa remaja adalah masa yang sangat sulit bagiku karena aku harus memilih, disatu sisi setelah lulus SMU aku ingin masuk AKABRI (dulu Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan menjadi perwira tentara, tetapi ayahku menyarankan aku melanjutkan pendidikan di Universitas. buatku pada itu adalah masa yang sulit, untungnya semenjak kecil aku sudah terbiasa belajar mengambil keputusan sendiri, tetapi kondisi ini adalah awal dari kehidupanku kedepan apakah aku harus mengikuti keinginanku atau menuruti keinginan orang tuaku. Akhirnya setelah mempertimbangkan dengan dalam, sampai membuatku stres aku mendaftar juga di Universitas Lampung, dan diterima difakultas hukum padahal aku lebih suka filsafat, tapi di Unila tidak ada fakultas tersebut. Aku mulai lagi menjalani hari-hariku dengan mendengarkan, menyimak apa yang dikeluarkan dari mulut dosen. Tapi ada yang membuatku lain yaitu dunia mahasiswa memberikan kemerdekaan penuh kepada kita untuk mulai menata, memformat masa depan kita sendiri tanpa campur tangan orang lain. sambil kuliah dan mendengarkan ocehan dosen aku masuk sebuah NGO bernama Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) LBH Bandar Lampung sebagai voulentir. Aku sangat suka bergabung di LBH Bandar Lampung yang aku anggap kawah candradimuka (memperdalam ilmu hukum praktik). Hari demi hari kerjaku keluar masuk desa, kampung berkumpul dan berdiskusi dengan masyarakat desa tentang berbagai persoalan mereka walaupun aku harus mengorbankan kuliahku. Akhirnya akupun ingat dengan tanggungjawabku sebagai anak kepada orang tua hingga akhirnya aku harus masuk kembali kekampus untuk menyelesaikan kuliahku. Sambil menyelesaikan kuliah, aku terus aktif di LBH sambil membuat kelompok diskusi dengan teman-teman mahasiswa. Setelah menyelesaikan kuliah selama 6,5 tahun akhirnya aku lulus juga dan orang tuaku sangat bangga serta bahagia karena anaknya berhasil menjadi sarjana. Aktifitasku di LBH masih saja aku jalani, sebagai seorang intelektual yang baru dilahirkan, aku harus melebarkan pergaulanku kekelompok intelektual lainnya yang beragam dasar pemikirannya. Berkembang dan mecuatnya konflik di LBH memaksaku untuk keluar LBH walaupun dengan berat hati Kawah Candradimuka itu harus aku tinggalkan toh perjuangan tidak harus di LBH dengan beberapa teman-teman aku membuat lembaga baru sebagai ajang sentral informasi dan perumusan ide-ide serta konsep-konsep yang akan dijalankan dimasyarakat. Sebagai anak muda yang suka dengan tantangan dan bercita-cita menjadi LAWYER, aku hijrah kejakarta perjuangan dijakarta aku mulai sebagai staf disalah satu kantor Lawyer hanya satu bulan aku bekerja, selanjutnya aku bergabung dengan salah satu NGO bernama RACA (Rapid Agrarian Conflik Apraisal) Institute yang konsent pada resolusi konflik berbasis sumber daya alam. Sampai saat ini aku masih mengabdikan ilmu serta kemampuanku di RACA Institute…..entah kedepan…???????

Seorang Pemuda/i sejati adalah pemuda/i yang selalu mengatakan inilah aku dan bukan mengatakan inilah Bapakku”

Antony Grivod


Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.